Kamis, 13 Maret 2014

Adil dan Amanah

PEMIMPIN YANG AMANAH

Qs. An-Nisa’[4]: 58
 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”
Al-Jazairi (dalam Aysar al-Tafasir): Amanah adalah segala yang dipercayakan kepada seseorang, baik berupa perkataan, perbuatan, atau harta benda.
Al-Biqa’I (dalam kitab: Nazhm al Durar): Amanah adalah semua kewajiban yang harus ditunaikan terhadap orang lain.
Fakhruddin ar-Razi (dalam Tafsir al-Kabir): Jenis amanah yang wajib ditunaikan adalah menyangkut seluruh interaksi manusia, baik yang menyangkut hubungan dengan Allah, dirinya sendiri maupun orang lain.
Ayat itu juga ditujukan kepada penguasa, agar dalam menetapkan hukum mereka harus adil. Adil adalah lawan dari dzalim. Keadilan akan tercapai jika hukum untuk memutuskan adalah hukum yang adil, dan hukum yang adil adalah hukum yang datang dari dzat yang Maha Adil, yaitu Allah SWT.
Oleh karena itu Asy-Syaukani (dalam Tafsir Fathkhul Qadir): Adil adalah memutuskan perkara berdasarkan ketentuan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, tidak dengan pendapat pikiran semata).

Kesimpulan:
1.      Keadilan dan Amanah adalah perkara yang sangat penting dalam kepemimpinan.
2.      Keadilan tidak akan terwujud kecuali dengan menerapkan hukum dari Dzat yang Maha Adil, yaitu Allah SWT, yaitu Syariat Islam.

FAKTA SAAT INI (Sistem Sekuler yang materialistic):
1.      Keadilan sangat sulit ditemukan, karena:
a.       Hukum berpihak kepada yang kuat (yang punya kekuasaan)
b.      Kebenaran berpihak kepada yang punya uang
c.       Kesejahteraan berpihak kepada yang kaya
d.      Pendidikan hanya milik yang berharta
e.       Orang yang merusak agama/aqidah lebih dihormati daripada yang membela agama/aqidah.
(Bukti faham liberal berkembang, kurofat dan tahayul berkembang, bahkan difasilitasi dengan akses media yang sangat besar).
2.      Para penguasa lebih banyak berfikir untuk kepentingannya sendiri dengan mengabaikan kesulitan rakyatnya. Bahkan kalau perlu dengan menjual bangsa dan negaranya. Hal ini bisa kita lihat dari sekian banyaknya SDA kita yang jatung ke pangkuan kompeni Asing. Contoh: Minyak dan Gas Bumi 92% dimiliki perusahaan asing. Na’udzubillah.
3.      Para penguasa juga sering larut dalam pesta pora yang menghabiskan dana yang cukup besar, seperti pada saat pelantikan cabinet, sementara masih banyak rakyatnya yang ditimpa musibah kelaparan, kemiskinan, dll.
Peringatan Rasulullah:

“Dari Abu Ya’la Ma’qil bin Yasar r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda:”Tiada seorang hamba yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk memimpin rakyat kemudian ketika ia mati masih menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan sorga baginya.” HR. Bukhari-Muslim.

Dari Aisyah r.a. : “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Ya Allah, barang siapa yang diberi kekuasaan untuk mengurusi sesuatu dari urusan umatku kemudian ia mempersulit mereka, maka sulitkanlah baginya. Dan barang siapa yang diberi kekuasaan untuk mengurusi sesuatu dari urusan umatku kemudian ia mempemudah mereka, maka mudahkanlah baginya ” HR. Muslim

Dari Abu Maryam r.a. bahwasanya ia berkata kepada Muawiyyah: “Saya mendengar Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi sesuatu dari urusan umat Islam kemudian ia tidak memperhatikan kepentingan, kedudukan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedudukan, dan kemiskinannya nanti pada hari kiamat.” HR. Abu Daud dan Turmudzi.

Allah SWT dalam banyak ayatnya juga telah memberi peringatan kepada para penguasa untuk tidak menghianati rakyatnya, dan selalu menegakkan keadilan.
QS. Al-Anfaal[8]: 27

$pkšr'¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qçRqèƒrB ©!$# tAqß§9$#ur (#þqçRqèƒrBur öNä3ÏG»oY»tBr& öNçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇËÐÈ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.

QS. Al-Maidah[5]: 8

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kesimpulan:
Dalam sejarah telah terbukti system Islamlah yang mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang bertaqwa, pemimpin yang adil dan amanah, dan bangsa serta Negara yang kuat, yang mandiri dan terlepas dari belenggu penjajahan Negara manapun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar