PEMIMPIN
YANG AMANAH
Qs. An-Nisa’[4]:
58
“Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha
Melihat.”
Al-Jazairi (dalam Aysar
al-Tafasir): Amanah adalah segala yang dipercayakan kepada seseorang, baik
berupa perkataan, perbuatan, atau harta benda.
Al-Biqa’I (dalam kitab: Nazhm
al Durar): Amanah adalah semua kewajiban yang harus ditunaikan terhadap
orang lain.
Fakhruddin ar-Razi
(dalam Tafsir al-Kabir): Jenis amanah yang wajib ditunaikan adalah menyangkut
seluruh interaksi manusia, baik yang menyangkut hubungan dengan Allah, dirinya
sendiri maupun orang lain.
Ayat itu juga ditujukan
kepada penguasa, agar dalam menetapkan hukum mereka harus adil. Adil adalah
lawan dari dzalim. Keadilan akan tercapai jika hukum untuk memutuskan adalah hukum
yang adil, dan hukum yang adil adalah hukum yang datang dari dzat yang Maha
Adil, yaitu Allah SWT.
Oleh karena itu
Asy-Syaukani (dalam Tafsir Fathkhul Qadir): Adil adalah memutuskan perkara
berdasarkan ketentuan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, tidak dengan
pendapat pikiran semata).
Kesimpulan:
1.
Keadilan
dan Amanah adalah perkara yang sangat penting dalam kepemimpinan.
2.
Keadilan
tidak akan terwujud kecuali dengan menerapkan hukum dari Dzat yang Maha Adil,
yaitu Allah SWT, yaitu Syariat Islam.
FAKTA SAAT INI
(Sistem Sekuler yang materialistic):
1.
Keadilan
sangat sulit ditemukan, karena:
a.
Hukum
berpihak kepada yang kuat (yang punya kekuasaan)
b.
Kebenaran
berpihak kepada yang punya uang
c.
Kesejahteraan
berpihak kepada yang kaya
d.
Pendidikan
hanya milik yang berharta
e.
Orang yang
merusak agama/aqidah lebih dihormati daripada yang membela agama/aqidah.
(Bukti faham liberal berkembang, kurofat dan tahayul berkembang,
bahkan difasilitasi dengan akses media yang sangat besar).
2.
Para penguasa lebih banyak
berfikir untuk kepentingannya sendiri dengan mengabaikan kesulitan rakyatnya. Bahkan
kalau perlu dengan menjual bangsa dan negaranya. Hal ini bisa kita lihat dari
sekian banyaknya SDA kita yang jatung ke pangkuan kompeni Asing. Contoh: Minyak
dan Gas Bumi 92% dimiliki perusahaan asing. Na’udzubillah.
3.
Para penguasa juga sering larut
dalam pesta pora yang menghabiskan dana yang cukup besar, seperti pada saat
pelantikan cabinet, sementara masih banyak rakyatnya yang ditimpa musibah
kelaparan, kemiskinan, dll.
Peringatan Rasulullah:
“Dari Abu
Ya’la Ma’qil bin Yasar r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda:”Tiada
seorang hamba yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk memimpin rakyat kemudian
ketika ia mati masih menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan sorga
baginya.” HR. Bukhari-Muslim.
Dari Aisyah
r.a. : “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Ya
Allah, barang siapa yang diberi kekuasaan untuk mengurusi sesuatu dari urusan
umatku kemudian ia mempersulit mereka, maka sulitkanlah baginya. Dan barang
siapa yang diberi kekuasaan untuk mengurusi sesuatu dari urusan umatku kemudian
ia mempemudah mereka, maka mudahkanlah baginya ” HR. Muslim
Dari Abu Maryam
r.a. bahwasanya ia berkata kepada Muawiyyah: “Saya mendengar Rasulullah
bersabda:”Barangsiapa yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi sesuatu
dari urusan umat Islam kemudian ia tidak memperhatikan kepentingan, kedudukan
dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan,
kedudukan, dan kemiskinannya nanti pada hari kiamat.” HR. Abu
Daud dan Turmudzi.
Allah SWT dalam banyak ayatnya juga telah
memberi peringatan kepada para penguasa untuk tidak menghianati rakyatnya, dan
selalu menegakkan keadilan.
QS.
Al-Anfaal[8]: 27
$pkr'¯»t
z`Ï%©!$#
(#qãZtB#uä
w
(#qçRqèrB
©!$#
tAqß§9$#ur
(#þqçRqèrBur
öNä3ÏG»oY»tBr&
öNçFRr&ur
tbqßJn=÷ès?
ÇËÐÈ
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.
QS.
Al-Maidah[5]: 8
Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah
kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kesimpulan:
Dalam
sejarah telah terbukti system Islamlah yang mampu menghasilkan pribadi-pribadi
yang bertaqwa, pemimpin yang adil dan amanah, dan bangsa serta Negara yang
kuat, yang mandiri dan terlepas dari belenggu penjajahan Negara manapun.